KDP 157

“Apa yang kau lakukan tadi malam, Niao Ping?” tanya Ling Ting lagi mendesak. “Aku mendengar perbuatanmu tadi malam.”

“Bukan hanya mendengar, tapi juga bertarung bersama dan Nona memelukku saat aku tidak berdaya,” kata Niao Ping berpura-pura tidak paham.

“Bukan di malam itu, tapi tadi malam menjelang subuh,” tegas Ling Ting bernada kesal.

“Oh, menjelang subuh. Iya, aku ada di sini. Memangnya … apa yang Nona dengar dari dalam kamarku?” tanya Niao Ping bermain drama.

“Suara desahan wanita. Kau pasti sedang melakukan hubungan intim dengan seorang wanita,” tukas Ling Ting.

“Tapi … bagaimana Nona bisa menyimpulkan bahwa desahan itu suara wanita yang sedang melakukan hubungan intim?” tanya Niao Ping.

Terbeliak Ling Ting ditanya seperti itu. Dia terdiam sejenak karena bingung harus menjawab apa. Dia harus memikirkan dulu jawabannya karena pertanyaan Niao Ping setengah menjebak.

“Maksud Nona, hubungan intim itu hubungan seperti suami istri di malam pertama?” Niao Ping lebih dulu bertanya lagi.

“Iya,” jawab Ling Ting lantang.

“Berarti Nona Ling Ting pernah melakukannya?” terka Niao Ping seraya tersenyum setan.

“Niao Ping!” hardik Ling Ting mendelik.

“Hahaha!” tawa Niao Ping.

Semakin kesal Ling Ting diperlakukan seperti itu oleh Niao Ping.

“Nona Ling Ting, untuk melakukan itu, setahuku memerlukan pasangan. Contohnya, aku berpasangan dengan Nona,” kata Niao Ping.

Terkesiap Ling Ting yang membuat pipinya jadi merah merona karena malu.

“Nona lihat sendiri, aku hanya seorang diri di sini. Jikapun seandainya aku melakukannya dengan seorang wanita, lalu kenapa Nona Ling Ting marah? Apakah aku telah menyinggung Nona? Jika demikian, aku mengucapkan permohonan maafku, Nona,” kata Niao Ping yang berujung dengan penghormatannya kepada gadis cantik itu.

Ling Ting jadi tidak bisa berkata-kata. Jika benar Niao Ping melakukan hubungan intim dengan seorang wanita di kamarnya, kenapa dirinya yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan Niao Ping harus mengurusi atau mengomentarinya.

“Aku sangat cemburu, Niao Piiing!” teriak Ling Ting kesal, tetapi hanya di dalam hati. Aslinya dia hanya menghempaskan napas kekesalan.

Dengan wajah cantik yang marah dan gestur yang menunjukkan kekesalan, Ling Ting akhirnya berjalan pergi menuju ke luar. Dia meninggalkan Niao Ping yang merasa lega.

Namun, sebelum Ling Ting sampai ke pintu, mendadak dia berhenti karena di depan pintu muncul wanita bercadar bermata hijau terang. Wanita berpakaian putih itu membawa pedang di tangan kanannya. Dia tidak lain adalah Suk Maa.

Terkejut Suk Maa melihat keberadaan Ling Ting di dalam kamar pemuda yang dicintainya. Ling Ting sendiri memasang sikap dingin. Dia tidak gentar jika harus ribut dengan Suk Maa.

Sementara Niao Ping, dia agak terkejut pula melihat kemunculan Suk Maa.

“Apa yang kau lakukan di kamar Niao Ping, Nona Ting?” tanya Suk Maa dengan nada ketus.

“Aku tidur bersama Niao Ping tadi malam,” jawab Ling Ting berdusta. Dia sengaja ingin membuat hati Suk Maa panas.

Terbeliak sepasang mata hijau Suk Maa mendengar pengakuan Ling Ting.

Di saat Suk Maa terkejut dan seperti syok mendapat kabar buruk, Ling Ting berjalan melewatinya.

Ketika Ling Ting sudah melewatinya, Suk Maa tiba-tiba berbalik dan tangan kirinya menangkap bahu kiri Ling Ting, membuat gadis bangsawan itu berhenti melangkah dan keningnya mengerut tanda bahwa dia tidak suka dengan tindakan Suk Maa.

“Kau berutang penjelasan kepadaku, Nona Ting!” kata Suk Maa.

Ling Ting lalu menangkap tangan kiri Suk Maa yang ada di bahunya dan menariknya, membuat tubuh Suk Maa tertarik kepadanya. Suk Maa sigap menahan tarikan itu dan menyerangkan sarung pedangnya kepada kepala Ling Ting.

Tak! Buk!

“Hekh!”

Dengan cekatan Ling Ting menangkis serangan Suk Maa dan seiring itu kaki kanannya sangat cepat menendang perut.

Kerasnya tendangan itu membuat tubuh Suk Maa terlempar ke dalam kamar. Ia sampai mengeluh.

Beruntungnya Suk Maa, tubuhnya ditangkap oleh Niao Ping sehingga terhindar menghantam dinding kamar.

Tahu bahwa Niao Ping sudi melindungi, alangkah bahagianya Suk Maa. Namun risikonya, Niao Ping seketika jatuh terkulai lemah dengan tubuh tertindih oleh tubuh Suk Maa.

“Niao Ping!” sebut Ling Ting terkejut.

Dia jadi berbalik lagi dan masuk menghampiri Niao Ping dan Suk Maa. Namun, Suk Maa cepat mengancamnya dengan pengulurkan pedang yang masih bersarung. Suk Maa sendiri sudah tidak kaget melihat Niao Ping mendadak lemas.

“Jangan mendekat! Kau hanya membuat Niao Ping sakit!” hardik Suk Maa.

Ling Ting berhenti hanya sebatas pintu kamar.

“Nona Ling Ting, Tuan sudah menunggu di bawah,” kata Komandan He Her yang muncul di tempat itu pula.

Keributan yang terjadi di depan kamar Niao Ping membuat Komandan He Her cepat naik ke lantai dua.

Memang, Mae Ha dan para prajuritnya sudah turun dan berada di depan penginapan. Mereka akan pulang ke Ibu Kota.

Karena terlalu cemburu melihat kebersamaan Niao Ping dengan Suk Maa, Ling Ting memilih berbalik pergi dengan langkah yang cepat.

Komandan He Her hanya memandang sepasang pemuda itu sebentar. Suk Maa menatap tajam dengan mata indahnya. Setelahnya, prajurit itu segera berbalik pergi menyusul junjungannya.

Suk Maa lalu beralih kepada Niao Ping yang tergeletak di lantai kamar.

“Mau aku gendong ke ranjang?” tanya Suk Maa menawarkan seraya tersenyum di balik cadarnya.

Niao Ping hanya tersenyum getir.

Suk Maa lalu bangkit dan pergi menutup pintu kamar. Setelahnya, Suk Maa pergi ke ranjang dan duduk di pinggirnya. Sementara Niao Ping mulai kembali kuat dengan cepat. Suk Maa dalam jarak aman.

“Mana Zi Wan?” tanya Niao Ping yang sudah bertenaga lagi sambil bangun berdiri.

“Dia menunggu di bawah. Dia tidak mau pulang ke rumahnya,” jawab Suk Maa.

Niao Ping diam sejenak memandangi Suk Maa yang duduk anggun di tepian ranjang. Ditatapi tanpa kata-kata, membuat jantung Suk Maa tersentak tanpa disentuh. Hatinya terasa bahagia, tetapi jantungnya jadi berdebar-debar.

Selama empat tarikan napas keduanya saling pandang.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu, Niao Ping?” tanya Suk Maa.

Ditanya seperti itu, Niao Ping hanya tersenyum lebar.

“Apakah kau sedang berpikir mesum denganku karena aku duduk di ranjang?” terka Suk Maa.

“Hahaha…!” tawa Niao Ping agak panjang. Dia memang membayangkan melakukan pergulatan asmara bersama Suk Maa. Lalu tanyanya, “Menurutmu, apa yang terjadi jika aku dan kau tidur bersama di ranjang itu?”

Seketika Suk Maa tersenyum di balik cadarnya. Tidak berapa lama, gadis itu tertawa nyaring.

“Hihihi…!” tawa Suk Maa nyaring sampai-sampai tubuhnya terguncang-guncang.

Dia membayangkan ketika Niao Ping menjadi suaminya, lalu hendak melakukan hubungan suami istri. Niao Ping dalam kondisi tidak berdaya dengan kelelakian yang terkulai tanpa daya tegang.

“Hahaha!” Niao Ping justru mendukung kelucuan di dalam pikiran Suk Maa yang masih seorang gadis perawan.

“Sepertinya kau punya cita-cita kepadaku,” terka Suk Maa dengan tatapan tajam kepada Niao Ping.

“Hanya sekedar membayangkan. Itu hanya mimpi. Aku tidak mau menjadi jahat kepada setiap gadis yang mencintaiku,” kata Niao Ping jujur. Dia sadar bahwa pikiran semacam itu adalah hal buruk baginya.

“Apakah memang sudah banyak gadis yang mencintaimu atau baru sekedar hayalanmu?” tanya Suk Maa.

“Tidak, masih sedikit. Masih bisa dihitung dengan jari tangan,” kata Niao Ping seraya tersenyum lebar. “Ayo kita berangkat!”

Apakah sensasi berkuda di atas ranjang dengan Ti Xue telah meracuni pikiran Niao Ping? Siapakah calon pasangan ranjangnya berikutnya? Ikuti terus kelanjutannya! (by Rudi Hendrik)

Outline


Outline novel kolosal “Sanggana7: Dendam Ratu Muda”

 

Perjanjian antara raja Kerajaan Sanggana Kecil Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, putri mahkota Kerajaan Pasir Langit, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.

Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.

Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.

Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.

Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas di Wisma Keratuan. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga sebagai pembunuhnya.

Kematian Ratu Ani membuat Prabu Dira mempercayakan tahta keratuan di Kerajaan Pasir Langit kepada Permaisuri Ginari.

Prabu Dira menggelari kesepuluh istrinya di Kerajaan Sanggana Kecil dengan gelar permaisuri dan satu ratu bergilir setiap tahun. Dalihnya, itu demi keadilan bagi istri-istrinya.

Namun, setelah Permaisuri Ginari memimpin Kerajaan Pasir Langit, justru muncul serangan-serangan terhadap dirinya dan kerajaan.

Ternyata, Ratu Ani yang sudah dikubur, muncul sebagai pemimpin pemberontak. Sebelum kematiannya, Putri Ani mempelajari satu kesaktian yang bisa membuatnya hidup kembali. Itu atas saran dari ayahnya yang sudah kehilangan kesaktian.

Pada saat itu, muncul pendekar wanita sakti yang kemudian bersekutu dengan Ratu Ani.

Ancaman yang dihadapi oleh Ratu Ginari membuat Ratu Tirana di Kerajaan Sanggana Kecil mengutus Permaisuri Pedang dan Permaisuri Mata Hijau untuk membantu di Kerajaan Pasir Langit. (RH)

CERPEN 2

Pacaran Tanpa Bersentuhan

 

Oleh: Rudi Hendrik

 

“Mau jadi pacarku?”

Jelas aku sangat terkejut mendengar pertanyaan siswi yang mengaku bernama Adela itu.

Ada dua rasa terkejut yang aku rasakan saat ini. Keterkejutan pertama mengandung rasa bahagia. Bagaimana tidak? Seorang siswi cantik yang menurutku jelita, mungkin sulit mencari duanya di seantero kota besar ini, menawarkanku untuk menjadi pacarnya. Semua lelaki 99 persen mungkin akan langsung mengangguk, apakah dengan ekspresi malu-malu macan, atau dengan ekspresi seperti pemangsa yang suka membasahi bibirnya dengan lidah yang berliur. Ada bunga-bunga yang mekar di dalam hatiku, meski hanya bunga sejambangan.

Keterkejutan kedua mengandung horor, membuatku seketika mengaktifkan my defense system. Secara logika adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Seperti modus klasik cerita cinta perfilman Bollywood, Drakor atau sinetron domestik yang terkadang lebay. Adela menabrakkan saparuh tubuhnya kepadaku sehingga tiga buku komiknya berjatuhan. Padahal lebar koridor di sekolah ini lapang dan tidak dalam kondisi berdesakan seperti keluar dari bioskop. Aku pun baru pertama kali memasuki sekolah ini dan itu juga baru sepuluh meter melewati pintu gerbang.

Setelah basa dan basi, sepatah dua kata sebagai intro komunikasi, tiba-tiba Adela memperkenalkan namanya dan bertanya, “Mau jadi pacarku?”

Jika tidak terlalu kasar untuk menyebutnya “cewek gila” karena dia terlalu cantik, mungkin sebutan itu sudah aku ucapkan untuknya.

Otak detektifku segera bekerja menganalisa yang berujung dengan seribu dugaan belaka. Namun, otak politikku segera mengajukan pertanyaan yang jawabannya akan menjadi penentu, apakah aku akan ikut bermain catur atau bermain aman.

“Jika menjadi pacarmu, apakah ada syarat-syaratnya?” tanyaku kepada Adela.

“Ya. Kita pacaran selama seminggu ke depan. Sebelum masuk kelas, jam istirahat, dan waktu pulang, kita wajib bertemu. Istirahat makan bersamaku. Kamu harus memperjuangkan aku jika ada cowok lain yang berusaha mendekatiku. Jika ada yang bertanya hubungan kita, jawablah bahwa kita pacaran. Yang terakhir, jika kamu punya pacar saat ini, harus kamu putuskan,” cerocos Adela menjawab pertanyaanku dengan cukup lengkap. “Oh ya satu lagi. Tapi selama pacaran, kita tidak boleh bersentuh tangan. Jika terjadi, otomatis kita akan putus sebelum waktunya.”

Syarat terakhirnya membuatku sedikit ternganga. Pacaran tapi tidak boleh pegang tangan sedikit pun. Hei, ini jenis pacaran model suku mana?

“Bagaimana, Rudi? Jika kamu mau, maka aku akan memberimu satu ciuman lewat mimpi,” kata Adela yang mengaktifkan kembali reaksiku yang sempat terjeda.

“Setuju!” jawabku cukup lantang, seolah menjadi pacar Adela adalah cita-cita yang terpendam. Padahal aku mengenalnya tidak lebih dari dua menit yang lalu.

“Mulai sekarang kamu adalah pacar primadona sekolah ini. Jangan lupa temui aku saat jam istirahat, kita makan bersama,” katanya kepadaku.

“Iya,” jawabku.

Adela tersenyum, seolah dia bahagia dengan ijab kabul kami. Ia lalu berbalik dan berjalan pergi. Aku bergeming, tetap berdiri di tempatku. Mataku seolah sungkan beranjak dari sosoknya yang indah. Di ujung koridor, ia bergabung dengan teman-temannya yang tertawa-tawa.

Jelas aku sudah masuk dalam sebuah permainan yang belum sepenuhnya aku tahu, permainan jenis apa ini. Siapa orang yang punya ide konyol, gila, atau tidak bermanfaat ini? Adela sudah tahu namaku, artinya dia memang membidikku. Entah, apakah aku dibidik untuk benar-benar dijadikan pacar atau dibidik untuk dijadikan korban dengan berstatus pacar?

Terlepas apa pun motif dari permainan ini, yang jelas jiwaku yang suka tantangan merasa sedang dirayu dan mau diuji ketangguhannya. Sudah lima kali aku pindah sekolah di masa SMA ini, karena harus mengikuti Ayah yang berpindah-pindah kota karena tugas dinas kemiliteran. Meski aku tidak bercita-cita menjadi prajurit seperti Ayah, tetapi separuh karakter Ayah bisa dikatakan menurun kepadaku.

Aku jadi penasaran. Aku ingin tahu, apakah aku bisa menjadi pemain atau sekedar bahan mainan dari sekelompok siswa sekolah ini.

Namun, seribu dari tanda tanya di dalam kepalaku akhirnya terurai sebagian. Gunawan, satu-satunya teman yang sebelumnya sudah direkomendasikan oleh ayahku di sekolah ini, membocorkan satu rahasia terkait permainan yang sedang aku ikuti.

Putra dari rekan seangkatan ayahku itu mendapat bocoran dari sahabatnya yang juga ikut dalam permainan itu.

“Adela itu primadonanya di sekolah ini. Dia punya semboyan, semua siswa adalah mantan. Salah satu temannya adalah putri Kepala Sekolah. Jadi, teman-teman sekelasnya memberi tantangan agar Adela menjadikanmu pacar selama seminggu. Impian dari teman-temannya selama ini adalah mematahkan semboyan itu dengan cara masa pacaran yang tidak sampai, atau masa pacaran berlanjut paling sedikit hingga satu bulan.”

Gunawan menjelaskan apa hal yang berada di belakang insiden tidak masuk akal yang aku alami pagi ini. Bermodalkan informasi itu, otak politikku terus bekerja guna mengatur dan menentukan siasat untuk satu pekan lamanya. Pada akhirnya nanti, apakah aku harus menjadi pacar yang baik atau pacar yang buruk? Apakah aku harus membantu Adela menyelesaikan misi dan tantangannya atau aku harus menjadi faktor penggagalnya?

Jelas, aku dan Adela akan menjadi sorotan dari seluruh murid yang tahu tentang pertaruhan ini. Namun, jelas mereka semua tidak tahu bahwa aku tidak suka menjadi bahan permainan atau medan permainan. Aku berjiwa penantang dan aku suka menjadi pemain, bukan arena permainan.

Salah satu karakter yang dimiliki ayahku sebagai seorang prajurit adalah kegiatan intelijen, salah satunya adalah mengumpulkan informasi tentang sesuatu atau seseorang. Lebih detailnya adalah melakukan riset. Itu salah satu karakter Ayah yang menurun kepadaku.

Maka, mulai hari pertama bersekolahku yang bertepatan dengan hari pertama menjadi pacar dari sang primadona sekolah, aku langsung aktif mengumpulkan informasi tentang Adela dan mengkonversinya menjadi sekumpulan data yang bersifat fakta. Tentunya aku sangat mengandalkan bantuan Gunawan dalam misi rahasia ini.

Di sela-sela kegiatan belajarku di kelas, dalam waktu singkat aku bisa memiliki data identitas diri Adela, dari tempat tanggal lahir hingga hobinya apa.

Namun, ketika kami bertemu kembali pada jam istirahat, aku berpura-pura buta tentang dirinya. Dia hanya sedikit terkejut ketika di kantin sekolah aku memesan bakso tanpa mie dan lain-lainnya, hanya dengan kuah. Komposisi bakso seperti itu adalah kesukaan Adela yang baru saja aku ketahui infonya, yang aku buat seolah-olah itu adalah kebetulan belaka.

Sementara di sisi lain, banyak mata yang diam-diam memperhatikan keakraban kami yang memang dipaksakan dan dibuat-buat.

Sepulang sekolah, aku tidak berhenti untuk mengumpulkan informasi tentang Adela. Semua akun media sosialnya aku lacak dan pelajari. Bahkan aku bisa mengetahui siapa saja anggota keluarganya dan data tentang mereka.

Ya, memang seperti inilah aku jika diberi atau dihadapkan dengan sebuah tantangan. Maka tidak perlu heran jika aku menjadi murid yang selalu peringkat tiga besar meski aku sering pindah sekolah. Pekerjaan intelijen seperti ini sudah beberapa kali pernah aku lakukan, bahkan dua kali di bawah bimbingan Ayah.

Menghadapi hari kedua, aku merencanakan sejumlah agenda yang nanti hasilnya menjadi dasar bagi agenda di hari berikutnya.

Di hari kedua, aku menjalani pacaran tanpa bersentuhan dengan Adela seperti biasa. Namun, sepulang sekolah aku bergerilya. Aku bertamu ke rumah Adela di saat pacarku itu belum pulang ke rumah. Salah satu kebiasaan Adela adalah mampir main ke rumah temannya.

Kepada ibu Adela aku berterus terang bahwa aku adalah pacar putrinya. Sikap santun dan jujur adalah kunci utama untuk memikat hati calon mertua di masa depan. Kunjungan setting-an pun aku lakukan di toko bunga ayah Adela. Aku membeli bunga dengan target bertemu dengan ayah Adela. Dan target itu terpenuhi walau hanya pertemuan singkat yang basa dan basi.

“Aku Rudi, Om. Yang aku dengar, ini toko bunga punya ayahnya Adela. Benar, Om?” tanyaku sembari memperkenalkan diri.

“Benar. Kamu temannya Adela?”

“Iya, Om. Senang bisa kenal Om. Tapi aku permisi, Om, maklum sudah telat pulang,” kataku.

Hanya sebatas itu untuk hari ini. Adapun apa reaksi Adela ketika ayah atau ibunya menceritakan tentang kedatanganku, biarkanlah berjalan apa adanya.

Ternyata, pada pagi di hari ketiga, Adela tidak menyinggung tentang kedatanganku ke rumahnya. Membuatku hanya bisa menduga-duga. Namun, untuk hari ini pun aku punya agenda.

“Kamu tahu di mana toko makanan kucing di dekat sini?” tanyaku kepada Adela saat makan bersama di kantin.

“Kamu punya kucing piaraan? Kucing jenis apa?” tanya Adela antusias, seperti melihat peluang di depan mata akan dapat bonus jutaan rupiah.

“Bengal,” jawabku tenang.

“Hah! Bengal? Ya ampuuun!” pekik Adela begitu terpukau, membuat semua siswa yang ada di kantin itu memandang kepada mereka. “Ajak aku main ke rumahmu, Rudi!”

“Adela! Kamu gugur!” teriak salah seorang teman wanita Adela tiba-tiba sambil menunjuk kepada kami berdua.

Terkejutlah Adela oleh seruan Yenny yang sedang bersama rekan-rekan sekelasnya yang lain. Adela saat itu langsung tersadar bahwa ia secara refleks telah memegang tanganku. Buru-buru dia menarik tangannya dari punggung tanganku.

Kecintaan Adela kepada kucing mahal sangat tinggi. Di rumahnya, dia memelihara tiga kucing Persia dan satu kucing Russian Blue. Aku tahu kegilaan Adela terhadap kucing dari ibunya. Sebelumnya aku sudah banyak melihat foto-foto Adela bersama kucing-kucingnya di sosial medianya.

Baru hari ketiga, ternyata Adela dinyatakan gagal. Permainan cinta primadona sekolah itupun berakhir. Namun, masih ada perkara yang menggantung setelah itu.

Adela sangat ingin main ke rumahku dan bertemu dengan kucing mahal peliharaanku.

“Maaf, karena kamu bukan pacarku lagi, jadi aku tidak bisa mengajak sembarang orang untuk bertemu dengan kucing kesayanganku,” tolakku. Padahal kucing itu aku beli tadi malam bersama Ibu, menghabiskan uang tabunganku ratusan juta rupiah.

“Aku mau menjadi pacar sungguhan kamu, Rudi,” ujar Adela di depan sahabat-sahabatnya.

“Maaf, aku tidak mau dijadikan bahan permainan lagi untuk kedua kali,” tolakku, karena aku memang tidak mau dipermainkan.

Aku sudah mengubah uang tabunganku menjadi makhluk hidup mahal demi memenangkan permainan ini, jadi aku tidak mau hanya karena Adela ingin bertemu kucingku, lalu aku membiarkannya menipuku. Biarlah permaianan ini berakhir dengan kekalahan Adela dan kemenangan bagi teman-temannya. Adela harus berhenti mempermainkan murid-murid lelaki di sekolah ini.

“Aku janji, aku serius, Rudi. Aku mau menjadi pacar sungguhan kamu. Aku janji akan berhenti bermain lagi!” tandas Adela.

Itulah akhirnya. Aku dan primadona sekolah ini menjalin status pacaran sungguhan tanpa ada batas waktu tertentu. Meskipun pada akhirnya kami harus berpisah karena aku harus pindah kota lagi setelah enam bulan kemudian.

Alasan Adela sederhana ketika memutuskan untuk menjadi kekasihku secara serius, yaitu karena kami berdua sama-sama mencintai binatang. Orang yang berhati lembut kepada binatang, pasti bisa bersikap lebih lembut kepada sesama manusia, itu menurutnya.

Aku memberikan kucing mahalku kepada Adela sebagai tanda cintaku di hari perpisahan kami. Meski berpisah jarak, tapi kami terus berkomunikasi. (RH)

TTM 3

 3

Di Belakang Bu Rita

 

 

DR. Budi Waseso, MPd mengantar Fatara Hendrik ke kelasnya, yakni Kelas 11 IPA. Fatara berjalan di belakang lelaki bertubuh gemuk pendek berperut buncit itu. Meski agak buntet, tetapi Kepala Sekolah adalah sosok yang ditakuti dan dihormati oleh seluruh warga sekolah swasta tersebut. Rambutnya yang sudah jarang-jarang karena faktor botak, tetap disisir rapi ke semping. Kumis tebalnya melintang asik seperti kumis jawara Tanah Abang.

Fatara berjalan di belakang Pak Budi. Sementara Jur berjalan lebih belakang lagi sambil menenteng tas sekolah Fatara.

Suasana di sekolah tampak sepi karena semua sudah masuk ke kelas masing-masing. Setiap kelas sudah diisi oleh seorang guru pengajar.

“Assalamu ‘alaikum, Bu Rita!” salam Pak Budi di pintu kelas.

“Wa ‘alaikumussalam, Pak. Silakan masuk, Pak,” kata Bu Rita Sudarto, guru bahasa Indonesia yang terkenal cantik dan lembut tanpa kekerasan, karenanya ia menjadi simbol perdamaian sekolah. Ia berdiri di depan kelas sambil memegang sebuah buku.

Pak Budi dan Fatara melangkah masuk. Ternyata Jur juga ikut masuk.

“Ada roti sobek isi susu kuda jantan!” sahut seorang murid dari pojokan kelas.

“Aaah!” tiba-tiba ramai siswi putri mendesah panjang seperti desahan malam Jumat kliwon.

“Hahaha ...!” tertawa ramailah di Kelas 11 IPA itu.

“Bu Rita, pegangan, Bu!” teriak Erwin bermaksud menggoda gurunya yang memang faktanya masih belum menikah.

“Siapa yang berkata lagi, Bapak hukum cuci toilet!” ancam Budi sambil menatap tajam ke seantero kelas.

Seketika senyaplah kelas. Tidak ada yang berani berurusan dengan Kepala Sekolah.

“Jur, tunggu di luar!” perintah Fatara kepada pengawalnya itu. Ia mengambil tas dari tangan Jur.

“Siap, Nona!” ucap Jur patuh, layaknya seorang prajurit. Ia lalu balik kiri. Namun, sebelum ia maju jalan menuju pintu kelas, ia masih sempat menurunkan sedikit kacamata hitamnya lalu memandangi para murid dengan gayanya.

“Hahaha!”

Melihat gaya Jur yang menurut mereka kocak, meledaklah tawa semua murid.

Jur sekilas memandang kembali majikannya. Ternyata Fatara memandangnya dengan tajam dan dingin. Ditatap menyeramkan seperti itu, Jur buru-buru berjalan ke luar. Di luar dekat pintu, Jur berdiri siap sempurna dengan dagu sedikit terangkat, seperti penjaga Istana Kremlin di Moskow, Rusia. Kacamata kokoh bertengger di batang hidungnya.

Budi Wasesa tidak bisa menghukum mereka yang tertawa, tidak mungkin satu kelas dihukum.

“Ini murid baru di kelas ini. Saya serahkan kepada Ibu,” kata Pak Budi kepada Bu Rita.

“Iya, Pak,” ucap Bu Rita seraya tersenyum hambar dengan sinar mata yang memancarkan kengerian saat memandangi Fatara. Dengan jelas ia melihat kulit wajah Fatara yang begitu putih, jenis kulit yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Meski demikian, di dalam hati ia harus mengakui bahwa Fatara jauh lebih cantik darinya.

“Anak-anakku yang tersayang!” seru Budi kepada seluruh murid Kelas 11 IPA.

“Iya, Bapakku Sayang!” sahut para siswa serentak seraya tersenyum-senyum.

“Bapak berharap kalian menjadikan teman baru kalian sebagai anggota keluarga besar 11 IPA, bukan sebaliknya!” pesan Budi.

“Iya, Bapakku Sayang!” sahut seluruh murid serempak kompak sehingga terdengar ramai.

“Baik, Bu Rita, semoga baik-baik saja. Saya pamit,” ucap Budi seraya tersenyum manis kepada Bu Rita.

“Terima kasih, Pak,” ucap Bu Rita.

Baru saja Budi Waseso melangkah, tiba-tiba ia berbalik lagi dan bertanya kepada Bu Rita, “Oh ya, Bu. Katanya sudah mau sebar undangan ya?”

Mendelik Bu Rita mendapat pertanyaan seperti itu.

“Ah, Bapak dapat bisikan dari siapa?” tanya Bu Rita seraya tersenyum malu.

“Alhamdulillah jika belum,” kata Budi tersenyum lega sambil mengelus dada berdasinya.

“Hahaha! Pak Kepsek modus!” teriak seorang murid perempuan yang akhirnya memancing sekelas tertawa.

Budi yang hanya bermaksud bercanda menggoda Bu Rita tertawa sambil berjalan ke luar kelas.

Bu Rita Sudarto lalu beralih kepada Fatara untuk menyuruhnya memperkenalkan diri. Namun, ia kerutkan kening karena melihat jelas Fatara memandang ke belakangnya. Bu Rita lalu menengok ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa selain meja guru dan tembok kelas. Hal itu membuat Bu Rita mendadak merinding.

“Fatara?” panggil Bu Rita.

Fatara yang saat itu sedang memandangi sosok hijau bermata merah di belakang Bu Rita, segera beralih fokus memandang kepada guru barunya itu.

“Lihat apa?” tanya Bu Rita dengan tatapan agak takut.

“Nanti saja saya jawab, kalau Ibu tidak sedang tugas,” kata Fatara datar tanpa sedikit pun senyum, seolah kulit wajahnya begitu keras untuk bergerak.

Jawaban yang menimbulkan misteri itu membuat Bu Rita mulai merasakan rasa takut yang ia ciptakan sendiri dengan imajinasi dugaannya.

Sejumlah murid yang duduk di deretan kursi depan mendengar dialog singkat itu. Mereka langsung saling berbisik-bisik, menimbulkan kegaduhan.

“Silakan, Fatara. Perkenalkan diri,” kata Bu Rita.

“Hai, semua. Nama saya Fatara Hendrik dari Keluarga Hendrik. Demikian,” kata Fatara singkat.

“Hah, hanya segitu!” pekik Erwin, murid terganteng di kelas itu, sebab ketiga teman gantengnya ada di kelas lain.

“Hahaha!” tertawalah sejumlah murid. Mereka sudah membayangkan perkenalan yang intronya panjang kali lebar kali tinggi.

Ketika sebagian murid menertawainya, Fatara tetap saja bergeming dalam ekspresinya.

“Boleh saya duduk, Bu?” tanya Fatara.

“Silakan,” kata Bu Rita seraya tersenyum canggung, terlebih Fatara tidak ada senyum sedikit pun.

Sejenak Fatara melirik kepada sosok gaib di belakang Bu Rita. Guru berambut sebahu itu jadi tergidik ngeri melihat gerak mata Fatara.

Fatara melangkah pergi menuju ke kursi kosong di belakang. Semua murid memandang tanpa kedip kepada Fatara yang berjalan, seperti melihat seorang diva dunia yang sangat cantik. Padahal yang mereka ingin lihat jelas adalah kulit putih dan warna biru pada tubuh Fatara. Namun, Fatara bersikap abai dengan tingkah warga kelas itu.

Akhirnya Fatara duduk di sisi seorang perempuan gemuk berkulit mulus, berpipi bakpao dan berhidung pesek. Meski demikian, gadis itu memiliki model mata yang indah, membuatnya terlihat cukup cantik meski tubuhnya berlipat-lipat karena lemak. Gadis ini bermodel seperti Ayu Nosatgia, tetapi yang ini lebih enak dipandang mata.

“Hai!” sapa siswi gemuk itu dengan ekspresi yang tidak jelas, antara tersenyum, takut dan merana. “Nama saya Erla Zaskia.”

“Masih ada hubungan keluarga dengan Zaskia Gotik?” tanya Fatara sambil duduk tanpa memandang kepada Erla Zaskia.

“Tidak ada, hehehe!” jawab Erla sambil cengengesan bingung tingkah.

“Baik, Anak-Anak, perhatikan!” seru Bu Rita dengan suara lembutnya.

Fatara masih melihat keberadaan makhluk hijau bermata merah yang suka melompat-lompat di tempat, tidak jauh di belakang Bu Rita. Makhluk berwajah seperti kakek-kakek itu memiliki ekor panjang seperti ekor biawak. Bentuk tubuhnya seperti perpaduan manusia dan hewan.

Sosok hijau itu hanya dilihat oleh Fatara. Tidak ada murid lain yang melihat keberadaan makhluk itu.

Tidak hanya itu, Fatara juga melihat seorang wanita bergaun serba hitam gelap berdiri tepat di sudut kiri belakang kelas. Wanita itu berdiri mematung di sana. Seluruh wajahnya ditutupi oleh rambut yang lurus terurai. (RH)

TTM 2

 2

Calon Primadona Baru

 

 

Arjuna, Micho Sapta, Erwin Yudono, dan Rendy Habib berkumpul di kursi bawah pohon taman sekolah. Tidak biasanya mereka kumpul pagi-pagi, biasanya mereka baru kumpul saat jam istirahat atau setelah pulang.

Keempat siswa ganteng yang dikenal dengan sebutan Empat Pangeran itu, sepakat untuk membuktikan kabar viral satu malam.

Tadi malam, semua guru dan murid SMA Gilang Bangsa yang memiliki ponsel, mendapat info berantai yang berbunyi “Besok ada primadona baru pindahan luar negeri”.

Berita viral se-SMA itu menjadi bahasan utama dan serius bagi Empat Pangeran. Bahkan mereka melakukan pertemuan darurat jam 12 malam. Tadi malam mereka kumpul di trotoar sambil ngopi eceran kopinya pedagang minuman keliling.

“Selama dua tahun, Primadona Gilang Bangsa adalah Lucy,” kata Micho, pemuda tampan beralis tebal dan berkumis tipis lagi halus. Ia adalah murid kelas 12. “Pertanyaannya adalah, apakah mahkota primadona itu akan jatuh?”

“Oke, tetapkan taruhan pertama. Kalau kalah, traktir yang menang selama lima hari,” kata Arjuna, siswa tampan berhidung mancung dengan warna ras blasteran yang kental. Kakeknya asli orang Spanyol. Ia sekarang kelas 12. “Murid baru bakal kudeta atau tidak? Kalau saya, masih pilih Lucy.”

“Murid baru. Saya pilih murid,” kata Erwin memilih. Ia siswa kelas 11 bertubuh tinggi berkulit sawo matang, tetapi ketampanannya boleh diadu sesama manusia, bukan dengan domba. Keluarganya masih memiliki ikatan darah yang kuat dengan salah satu keluarga kraton yang ada di Tanah Jawa.

“Lucy!” pilih Rendy Habib, pemuda tampan bermata lebar dan berhidung panjang dan mancung. Alis dan cambangnya tampak lebat. Ia masih keturunan darah etnis Arab. Ia sama seperti Erwin, kelas 11.

“Saya pilih Lucy!” kata Micho juga memilih.

“Oke, tiga lawan satu,” kata Arjuna. “Taruhan kedua. Siapa yang berhasil mendapat senyum pertamanya? Yang kalah lari mundur tiga putaran di lapangan basket.”

“Oke.”

“Setuju!”

“Siapa takut?”

Ketiga lainnya sepakat dengan taruhan kedua.

“Taruhan ketiga. Siapa yang berhasil minum satu gelas dengannya. Yang kalah, patungan buat pesta kecil,” kata Arjuna lagi.

“Setuju!” kata ketiga lainnya sepakat, tidak ada oposisi.

Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing dengan motor besarnya masing-masing.

Keesokan paginya, Empat Pangeran bertemu di kursi bawah pohon di taman. Ternyata bukan hanya mereka berempat yang menunggu kedatangan si anak baru, tetapi Lima Dewi Merak juga berkumpul di kursi pinggir lapangan sekolah.

Lima Dewi Merak adalah nama kelompok bagi lima siswi cantik kelas 12. Meski di dalam kelompok itu ada Lucy Swiari yang menyandang gelar Primadona Gilang Bangsa saat ini, tetapi keempat siswi lainnya bukanlah yang tercantik di sekolah itu. Mereka lebih mahsyur di kalangan siswa lain sebagai kelompok geng wanita yang merasa paling cantik, meski bukan yang tercantik.

Mereka juga sama dengan murid-murid yang lain, ingin sekali melihat secantik apa siswi pindahan yang digadang-gadang akan menjadi primadona baru SMA Gilang Bangsa.

Akhirnya sebuah mobil mewah merah cerah merek Hummer H3 memasuki gerbang sekolah.

Melihat mobil itu, seketika para murid yang penasaran dengan si murid baru segera memusatkan pandangan mereka. Mereka yakin itu adalah mobil si murid baru, karena sebelumnya tidak ada murid yang diantar datang dengan mobil jenis itu.

“Wow! Berkelas habis!” ucap Erwin terpukau.

“Kamu tahu harga itu mobil?” tanya Arjuna.

“Satu miliar,” terka Rendy.

“Salah!” kata Arjuna.

“Setengah miliar,” kata Micho.

“Salah. Yang benar tiga miliar!” kata Arjuna.

Mobil merah besar itu berhenti di depan tangga.

“Teman-Teman, lihat sopirnya!” kata Micho.

“Settaaan!” sebut Erwin sebagai ungkapan kekagumannya saat berhasil melihat keberadaan sopir mobil itu.

Mereka melihat Cucun Maghfirah yang cantik berwajah putih bersih dan berhidung mancung. Bibirnya merah oleh lipstik. Kecantikannya menyimpan rasa penasaran karena matanya ditutupi oleh kaca mata hitam. Seorang gadis muda lagi cantik, tetapi menyopiri sebuah mobil besar nan mewah.

Akhirnya si anak baru turun dari mobil. Namun, sebagian dari warga sekolah SMA itu harus kecewa, meski tidak sedikit yang terpukau dan tertawa geli sendiri.

Orang yang turun dari mobil itu adalah seorang pemuda bertubuh tampan, karena wajahnya memang kurang tampan. Pemuda berambut cepak dan berkacamata hitam gelap itu tidak lain adalah Jur, yang nama aslinya Mahjur Supeno. Ia mengenakan kaos warna putih lengan pendek yang ketat, memperlihatkan tampilan ototnya yang membuat mata wanita tergiur dan nyali lelaki lain jadi ciut.

Jur segera membuka pintu bagi majikannya. Fatara Hendrik memberikan tas jinjing miliknya kepada Jur. Setelahnya, ia bergerak turun dan langsung berjalan menaiki tangga.

Empat Pangeran, Lima Dewi Merak dan para siswa lainnya, termasuk satpam sekolah, ternganga berjemaah melihat sosok anak baru yang mengenakan seragam sekolah sama seperti mereka, yaitu putih abu-abu. Namun, anak baru itu berambut biru terang, bermata biru, berbibir biru dan berkuku hijau. Yang paling aneh adalah kulitnya yang berwarna putih seputih kapas.

Arjuna, Micho, Erwin, dan Rendy tidak bisa berkata-kata selama hampir setengah menit lamanya. Hingga ketika Fatara yang dikawal oleh sang bodyguard lewat tepat di depan mata mereka, tidak ada satu pun yang berkomentar.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Lima Dewi Merak dan para murid yang lainnya.

Hingga akhirnya Erwin berteriak.

“Saya menaaang!”

“Enggak enggak enggak!” tolak Arjuna langsung merespon.

“Benar, enggak bisa, Er!” dukung Rendy.

“Enggak bisa bagaimana?” tanya Erwin protes. “Sekarang saya tanya, jawab dengan jujur. Arjuna, cantikan mana, Lucy atau si anak baru?”

“Anak baru,” jawab Arjuna.

“Kamu, Ren. Cantikan Lucy atau anak baru?” tanya Erwin lagi.

“Ya, jujur sih, cantikan anak baru,” jawab Rendy lemah.

“Sekarang kamu, Cho. Lucy atau anak baru?” tanya Erwin lagi.

“Kalau saya sih cantikan Lucy, tapi bohong,” jawab Micho lemah. Tapi tiba-tiba dia teriak kepada Erwin, “Tetap enggak bisa. Meski dia cantik, tetapi cewek itu aneh, Er!”

“Oit! Kita enggak nyinggung masalah keanehan. Kalian bertiga sudah mengakui, cewek itu lebih cantik dari Lucy!” tandas Erwin.

“Tapi kita belum tahu, dia bakal kudeta Lucy atau enggak. Hasil belum kelihatan, Er!” kilah Arjuna.

“Benar, Er. Walaupun anak baru lebih cantik dari Lucy, tapi belum tentu ada yang mau karena dia aneh,” kata Micho sambil tertawa kecil.

“Aaah, kalian. Oke, kita tunggu beberapa hari ke depan. Kita lihat reaksi sebagian besar anak-anak!” kata Erwin melunak.

Sementara itu, Fatara Hendrik berjalan tenang di sepanjang koridor sekolah yang melewati teras kelas demi kelas. Wajahnya dingin sedingin es. Ia tidak peduli dengan tatapan setiap mata kepadanya.

Sangat berbeda dengan Jur yang berjalan dengan tangan kanan menenteng tas sekolah Fatara. Jur berjalan dengan percaya diri di belakang nona mudanya. Matanya melirik ke sana dan ke sini, tetapi itu tertutupi oleh kacamatanya yang seperti kacamata bintang film Terminator. Ketika mendapati ada sekelompok siswi cantik yang dilewati, Jur terkadang tersenyum sendiri, seolah sedang menebar pesona.

Fatara jelas dianggap aneh karena fisiknya yang belum pernah warga sekolah itu lihat. Semua tidak tahu, manusia jenis spies apa anak baru ini. Faktor kecantikan membuat Fatara hanya terkesan aneh tanpa kesan mengerikan.

Namun, tetap saja kehadiran Fatara di sekolah itu menghebohkan seisi sekolah.

Fatara tidak perlu bertanya untuk mencari letak ruang kepala sekolah. Ia cukup membaca papan nama yang ada di atas pintu setiap ruangan. Bahkan ada papan denah yang membuat orang baru mudah menemukan tempat yang dicari di sekolah itu tanpa harus bertanya. (RH)

CPA 22

Irwan keluar dari gang sendirian dan berjalan di pinggiran jalan raya kecil. Langkahnya masih terlihat agak pincang buah dari insiden kecelakaannya bersama Darmawan. Meski sudah mendapat penanganan khsusus dari pakar urut dan syaraf di kediaman Ustaz Abu Rosyid, tapi tidak bisa menghilangkan cedera kaki secara mutlak.

 

Hari ini Irwan tampak tampan dengan sisiran samping yang masih basah. Mengenakan T-shirt hitam dan berjeans hitam yang sudah tampak lusuh. Sehelai handuk merah kecil dilipat rapi dan diselipkan di tali sabuk yang berwarna hitam. Irwan membawa tas biru kecil yang berisi bekal untuk makan siang.

 

Tidak hanya Irwan yang terlihat berjalan, sejumlah orang yang tampak sudah segar-segar dangan dandanan yang cantik-cantik turut berjalan kaki. Adapun yang lain melintas dengan mengendarai sepeda motor.

 

Orang-orang yang tidak memiliki kendaraan, harus berjalan kaki sekitar 200 meter ke pasar, nantinya dilanjutkan dengan naik angkutan umum menuju ke kawasan kerja masing-masing.

 

“Irwan!” satu suara wanita tiba-tiba terdengar memanggil dari sisi belakang Irwan.

 

Pemuda itu segera berhenti dan berpaling ke belakang. Dilihatnya, seorang wanita berkerudung merah mencekik leher becelana jeans biru ketat membungkus pinggul yang aduhai, berlari seraya tertawa kecil mencoba mendapati keberadaan Irwan.

 

“Astaghfirullah!” ucap Irwan, tapi hanya di dalam hati.

 

Meski cukup prihatin melihat pakaian “jilbab seksi” wanita itu, wajah Irwan tetap memberi senyum.

 

Penampilan wanita yang tidak lain adalah Syamsiah, janda muda anak satu teman sekerja Irwan, memang terbilang seksi, meski ia berjilbab.

 

Meski akrab sebagai teman kerja, tetapi akan selalu membuat jantung Irwan ber-dag dig dug jika bersama dengan Syamsiah. Penampilan wanita yang lebih tua itu mau tidak mau akan memancing pikiran tidak elok Irwan, ketika tanpa sengaja memandang pinggul atau tonjolan di bawah leher.

 

“Mpok enggak ada teman. Enggak nyaman dong kalau Mpok jalan sendirian,” kata Syamsiah seraya tersenyum kepada Irwan.

 

“Bagaimana mau nyaman kalau penampilannya begini. Kakek-kakek juga akan melotot kalau melihat,” kata Irwan, tapi hanya di dalam hati, sedangkan wajahnya hanya lepaskan senyum kuda.

 

“Kok jalan kamu agak pincang gitu?” tanya Syamsiah.

 

“Kemarin jatuh bareng motor di jalanan,” jawab Irwan.

 

“Tapi kamu gak kenapa-kenapa, kan?” tanya Syamsiah bernada cemas.

 

“Enggak, Mpok. Alhamdulillah hanya luka sedikit,” jawab pemuda itu.

 

“Bawa bekal?” tanya Syamsiah karena melihat Irwan membawa tas.

 

“Iya, Mpok. Penghematan di tanggal tua,” jawab Irwan sambil berjalan yang diiringi Syamsiah di sisinya.

 

Syamsiah hanya tertawa. Lalu katanya, “Eh, ada salam buat kamu.”

 

“Dari siapa?” tanya Irwan cepat sambil memandang wanita di sebelahnya.

 

“Lestari,” jawab Syamsiah sambil tertawa, seolah menertawai Irwan yang hanya tersenyum.

 

“Mpok jangan menggoda saya, sedangkan saya sedang jalan sama Mpok,” kata Irwan dengan maksud sengaja ingin menggoda perasaan wanita di sebelahnya.

 

“Ih, memang kenapa kalau kamu jalan sama Mpok?” tanya Syamsiah seraya serius memandang Irwan. “Kamu malu jalan dengan Mpok yang seorang janda?”

 

“Enggak, hanya khawatir orang yang enggak kenal akan menyangka saya suaminya Mpok,” kata Irwan.

 

“Ah, biarin saja, mereka kan tidak tahu bagaimana saya harus berjuang untuk tetap menghidupi diri dan seorang anak,” kata Syamsiah. “Jadi kamu tidak suka jalan sama Mpok?”

 

“Enggak. Namun, menurut Mpok bagaimana, jika Mpok jalan dengan lelaki yang tidak masalah dengan Mpok dan mata masyarakat?”

 

“Kamu pagi-pagi sudah bikin perasaan Mpok emosian aja, Wan,” gerutuh Syamsiah, tapi tidak menunjukkan kemarahan dengan sikap Irwan. “Maksud kamu suami? Mpok gak punya. Bapak Mpok? Sudah almarhum. Jangan bahas yang macam-macam deh, Wan. Ya sudah, kalau kamu malu jalan sama Mpok!”

 

Mulailah Syamsiah merajuk dengan wajah cemberut. Ia berjalan cepat sehingga meninggalkan Irwan. Hal itu membuat Irwan terkejut. Ia segera sadar bahwa ia telah membuat wanita itu tersinggung.

 

“Mpok!” panggil Irwan sambil berlari kecil menyusul Syamsiah dan berjalan agak terpincang di sebelahnya. “Mpok, jangan cepat-cepat begitu, kaki saya sakit nih!”

 

“Gak usah jalan sama Mpok,” ucap Syamsiah dengan suara pelan sambil tangannya bergerak menyeka sudut matanya dengan punggung jarinya.

 

Gerakan itu membuat Irwan segera menyimpulkan bahwa Syamsiah mungkin menangis. Irwan buru-buru maju ke depan Syamsiah guna memastikan bahwa Syamsiah tidak menangis karenanya. Syamsiah jadi berhenti dihadang seperti itu. Irwan pun dapat melihat sepasang mata Syamsiah yang agak memerah dan berkaca-kaca. Syamsiah sejenak menatap Irwan lalu bergeser ke samping dan terus berjalan melewati Irwan.

 

Melihat fakta bahwa dirinya telah menyinggung dan membuat marah perasaan Syamsiah, Irwan merasakan sendiri rasa sakit di hatinya. Ia merasa begitu bodoh dan tidak bisa memahami perasaan seorang wanita yang berstatus janda.

 

Irwan kembali berlari kecil dan menghadang Syamsiah. Ia cepat bicara.

 

“Mpok, maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf sudah menyinggung perasaan Mpok. Saya sebenarnya hanya mau bertanya, ‘Bagaimana menurut Mpok kalau saya jadi suami, Mpok?’,” katanya.

 

“Ak!” pekik Syamsiah terkejut, tetapi ia buru-buru membekap mulutnya sendiri agar jeritannya yang lepas kontrol tidak menarik perhatian orang sekitar. Seraya menahan rasa malu, ia menengok ke sekitar, khawatir ada orang lain yang dekat memperhatikannya gara-gara menjerit.

 

Posisi mereka berdua cukup jauh dari orang terdekat yang sama-sama berjalan kaki. Sepeda motor pun hanya berlalu tanpa melirik sedikit pun.

 

Rasa terkejut, bahagia dan malu melanda perasaan Syamsiah mendengar kata-kata terakhir Irwan. Sedangkan Irwan hanya menatap melihat reaksi wanita yang lebih dewasa di depannya itu. Namun kemudian, Syamsiah seolah tersadar yang kemudian justru membangkitkan amarahnya. Ia sadar betul, tidak mungkin Irwan serius berkata demikian. Ia menilai pemuda itu benar-benar melampaui batas dalam mencandainya.

 

“Ya Allah, Irwan! Kamu benar-benar kurang ajar sama Mpok, ya!” pekik Syamsiah dengan wajah merah memendam kemarahan. Tangan kanannya yang membawa tas diangkat hendak memukul kepala pemuda itu. Namun, dengan kegusaran yang dipendam, Syamsiah menahan pukulannya. “Mulai sekarang, jangan bicara kepada Mpok!”

 

Di kalimat akhirnya, Syamsiah tidak bisa menahan lagi emosinya. Tangisnya pecah. Ia berlari kecil dengan menunduk meninggalkan Irwan.

 

“Mpok!” panggil Irwan jadi kebingungan.

 

Pemuda itu bingung harus berbuat apa. Apakah ia harus terus mengejar Syamsiah yang sedang dipuncak emosi dan sakit hatinya? Atau, membiarkannya pergi sendiri dan ia berjalan menjaga jarak. Ia pun telah memastikan dirinya gagal dalam komunikasi dengan seorang wanita.

 

Akhirnya Irwan memutuskan berjalan sepuluh meter di belakang Syamsiah.

 

Di pangkalan angkutan umum, Syamsiah langsung naik ke mobil yang sedang menunggu penumpang lain. Pada akhirnya, Irwan pun menaiki mobil mikrolet yang sama. Ia duduk berhadapan dengan Syamsiah di paling belakang. Syamsiah memilih bersikap cuek tanpa mau memandang Irwan, ia memilih bermain dengan ponselnya atau memandang ke jalanan di luar sana. Irwan memandang sejenak wajah cantik matang di hadapannya. Jika diperhatikan, masih ada sisa-sisa jejak tangis di kedua mata Syamsiah.

 

“Maafkan saya, Mpok,” ucap Irwan lirih, tapi didengar oleh Syamsiah.

 

Syamsiah bergeming. Ia memilih menatap ke luar melalui kaca belakang mobil yang transparan. Justru ia sedang menahan gejolak di dalam dadanya. Ia mengabaikan Irwan yang semakin merasa serba salah. Irwan pun tidak bisa berbuat lebih banyak ketika beberapa penumpang mulai bernaikan dan sopir mulai menjalankan mobilnya.

 

Syamsiah memilih tetap memandang ke luar tanpa mau menatap wajah Irwan di depannya sejenak pun. Irwan yang hanya sesekali memandang wanita di depannya itu.

“Astaghfirullah, astaghfirullah ....”

Dalam hati Irwan hanya beristighfar. Saat itu ia berada dalam dilema hati. Namun, ia bertekad untuk menyelesaikannya hari itu juga. Ia tidak mau meninggalkan kesalahpahaman pada diri Syamsiah, sehingga justru nanti menjadi bola liar yang tidak baik.

 

Satu dua penumpang turun lebih dulu di tempat tujuannya. Mobil kembali berjalan. (RH)