46

Drap drap drap….!

“Heah heah!”

“Heah heah!”

Suara lari beberapa ekor kuda yang kencang dihiasi oleh teriakan-teriakan menggebah agar si kuda yang sudah berlari kencang lebih kencang larinya.

Ada tiga ekor kuda yang ditunggangi dalam formasi dikejar dan mengejar. Satu kuda dikejar dan dua kuda mengejar. Diketahui bahwa satu dikejar oleh dua, dilihat dari pakaian penunggangnya.

Dua penunggang di posisi belakang mengenakan pakaian yang sama, hitam-hitam dengan wajah dicoreng cat merah dan kepala dibungkus kain meah. Kedua penunggang di belakang tidak lain adalah prajurit dari Pasukan Topeng Merah.

Adapun penunggang kuda di posisi depan adalah seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian seperti orang kaya. Pemuda itu tidak lain adalah Cuka Brantak, putra Demang Tumpuk Galak yang berhasil lolos dari penyergapan.

Aksi kejar mengejar itu sudah berlangsung cukup lama dan jauh. Satu hutan dan dua bukit sudah dilalui. Namun pada akhirnya, satu insiden terjadi.

Sret! Set!

Cuka Brantak mencabut pedangnya lalu dia menebas dahan pohon yang membentang di atas kepalanya.

Saat dahan pohon itu jatuh, Cuka Brantak sudah melesat lewat bersama kudanya.

Bsruak! Blugk!

Nahas bagi prajurit yang posisinya di tengah. Dia tidak bisa menghindari dahan pohon yang jatuh menghadangnya. Kuda itu menabrak dahan pohon yang rimbun dengan dedaunannya.

Sang kuda tersandung dan jatuh tersungkur dengan si prajurit tidak bisa menyelamatkan dirinya dari keterjatuhan.

Prajurit di belakang mampu membuat kudanya melompati dahan karena ancang-ancangnya lebih jauh. Prajurit itu terus mengejar Cuka Brantak yang sempat menengok ke belakang melihat kondisi para pengejarnya.

Ternyata prajurit yang jatuh bisa cepat bangkit dan mendapati kudanya yang sudah bangun lebih dulu. Meski menderita luka lecet-lecet, prajurit itu kembali menaiki kudanya dan melanjutkan pengejaran.

Kejar-kejaran terus berlanjut dengan jarak yang berubah lebih jauh.

Kemudian tibalah Cuka Brantak di jalan agak menurun dan tanahnya tanah merah kering.

Sreeet!

Cuka Brantak yang tidak memelankan kudanya saat melewati jalan menurun tersebut, membuat sang kuda mengalami kecelakaan tunggal. Kaki depan kuda terpeleset lalu tersungkur berguling-guling.

Bukan hanya kuda yang berguling-guling, Cuka Brantak juga berguling-guling lalu terseret turun, sampai berhenti di bidang tanah yang lebih landai.

Cuka Brantak yang menderita kesakitan cukup parah, memaksakan diri untuk bangun demi mendapatkan kembali kudanya, tetapi sang kuda justru sudah lebih dulu berlari liar meninggalkan tuannya.

Drap drap drap…!

Tidak berapa lama, prajurit terdepan tiba di sisi atas. Dia memelankan kudanya agar tidak tergelincir.

Agak paniklah Cuka Brantak melihat prajurit berkuda berhasil mendapatinya.

Putra Demang itu lalu mencabut pedangnya. Tidak ada jalan lain selain melawan.

Melihat buruannya mencabut pedang, prajurit berkuda itupun mencabut pedangnya sambil melarikan kudanya ke posisi Cuka Brantak.

Ting!

Cuka Brantak bersiap dengan memasang kuda-kuda dan memegang pedangnya dengan dua tangan. Sambil mundur dia menangkis sabetan pedang si prajurit.

Si prajurit segera menghentikan kudanya dan berbalik untuk memburu Cuka Brantak lagi.

Cuka Brantak cepat berlari untuk kabur. Dia menuju ke arah ujung jalan yang kondisinya diapit oleh dua bidang ilalang nan tinggi sebahu.

Prajurit itu mempercepat lari kudanya mengejar Cuka Brantak. Pada saat yang sama, prajurit kedua muncul di sisi atas. Dia pun memelankan lari kudanya agar tidak tergelincir di tanah merah. Sebagai prajurit berkuda, tentunya mereka sudah mahir dalam mengendalikan kuda.

Drap drap drap!

Prajurit pertama bisa menyusul Cuka Brantak sambil mengayunkan pedangnya. Namun, Cuka Brantak memilih melompat ke samping dan bergulingan di tanah. Itu membuat posisi si prajurit dan kudanya telah menutup jalan lari bagi Cuka Brantak.

Posisi Cuka Brantak kian tersudut ketika prajurit kedua datang mendekat pula.

“Menyeralah!” perintah prajurit pertama.

“Tidak!” jawab Cuka Brantak lantang sambil berdiri memegang pedang dengan dua tangan dan wajahnya menengok ke kanan-kiri.

“Kalau begitu, aku ingin melihat sejauh mana kehebatanmu sebagai seorang lelaki yang kabur dari rombongan!” kata prajurit pertama.

Dia lalu melompat turun. Kudanya dilepas begitu saja karena sang kuda tidak akan pergi ke mana-mana, meski tidak akan diam di situ saja.

Prajurit pertama mendatangi Cuka Brantak. Mata di wajah bercat merahnya itu tajam menatap laksana seorang pemburu nyawa.

“Hiaaat!” teriak Cuka Brantak lebih dulu berlari maju sambil mengayunkan pedangnya, mengincar batang leher.

Ting! Ting ting!

Maka terjadilah duel pedang ketika prajurit pertama menangkis dan membalas dengan serangan.

Set!

“Aak!” jerit Cuka Brantak saat batang tangan kirinya terkena sayatan pedang si prajurit.

Si prajurit bisa langsung paham sejauh mana level olah kanuragan Cuka Brantak. Itu membuatnya tersenyum meremehkan.

“Jika kau tidak menyerah, maka kau akan mati muda dan sia-sia, Kisanak,” kata si prajurit.

“Jangan meremehkanku!” teriak Cuka Brantak. Ia lalu menyerang lagi dengan garang. “Hiaaat!”

Si prajurit dengan muda menangkis setiap tebasan dan tusukan Cuka Brantak.

Suuut! Buk!

Si prajurit melakukan tangkisan dengan cara yang agak berbeda. Dia menangkis tapi melakukan gerakan mengalah, membuat Cuka Brantak tertarik doyong ke depan. Di saat Cuka Brantak kehilangan keseimbangan, si prajurit memberi tendangan keras di lambung.

Tendangan itu membuat Cuka Brantak terdorong dan terhuyung. Si prajurit cepat memburu dengan bacokan dari sisi belakang.

Set!

“Aaakk!” jerit Cuka Brantak kencang. Punggung baju dan badannya robek tersayat.

Cuka Brantak jatuh ke tanah dengan punggung bersimbah darah. Pedangnya lepas dari tangan.

“Bunuh saja agar tidak ada beban lagi buat kita!” teriak prajurit kedua yang masih duduk di punggung kudanya.

“Baik!” sahut rekannya.

Prajurit pertama segera merangsek kepada Cuka Brantak yang mengerang kesakitan karena lukanya. Tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya. Leher adalah target senjatanya.

Cuka Brantak hanya bisa terbeliak dan menatap bayangan Malaikat Maut datang kepadanya.

Set!

Tus tus!

“Aakk!” jerit prajurit pertama itu dengan tubuh terlompat mundur ketika ada dua benda kecil menembus dadanya.

Terkejut prajurit kedua dan Cuka Brantak dengan kejadian tidak terduga itu. Prajurit kedua masih bisa melihat dua benda kecil yang jatuh di tanah dalam kondisi berlumur darah. Dua benda itu adalah batu kerikil yang sudah basah oleh darah.

Dua batu kerikil itulah yang membunuh prajurit pertama. Dia cepat mencari orang yang telah menyerang rekannya.

Ketemu. Dari jalan yang tertutupi oleh ketinggian ilalang muncul berlari seorang perempuan berpakaian warna kuning. Perempuan gemuk tapi kekar itu menggendong keranjang bambu di punggungnya.

Perempuan yang adalah Botong tersebut, berlari ke arah titik pertarungan.

Karena Cuka Brantak telah terluka parah, prajurit kedua memilih melarikan kudanya menyongsong kedatangan gadis gemuk yang terlihat dekil tersebut. Dia telah menghunus pedangnya.

Sambil berlari, Botong menghentakkan tangan kanannya ketika jarak keduanya masih sejauh tujuh tombak.

Set!

Sebanyak empat butir kerikil melesat menembusi dada kuda. Itu membuat sang kuda jatuh tersungkur dengan si prajurit terlontar ke depan.

Bdak!

“Akk!”

Botong menyongsong tubuh si prajurit kedua dengan keranjangnya yang berisi banyak kerikil. Dia mengibaskan beban di punggunya berputar ke depan. Keranjang itu menabrak tubuh si prajurit yang terlontar ke depan.

Prajurit kedua terlempar ke samping lalu jatuh dengan kondisi tanpa nyawa lagi. Beban berat telah menghantam kepalanya.

Setelah memastikan lawannya mati, Botong segera berlari kecil mendatangi Cuka Brantak.

“Terima kasih, Nisanak,” ucap Cuka Brantak sambil meringis menahan sakit.

Tooot!

Cuka Brantak terkejut karena ucapan terima kasihnya dijawab dengan suara kentut yang bombastis.

“Lukamu cukup parah, Kakang,” ucap Botong dengan suara cemprengnya saat melihat dengan jelas luka di punggung pemuda yang tidak dikenalnya itu. (RH)