Di dalam sebuah ruangan batu, duduk sepasang suami
istri separuh baya berseberangan meja batu yang kecil, cukup sekedar meletakkan
sepaket makan siang, yakni dua piring nasi dan sepiring lauk yang dimasak
dengan bumbu melimpah berbau sedap dan tajam, sangat memanjakan selera nafsu
makan. Lauknya hanya satu macam, tidak ada yang lain selain daging ular. Meski
demikian, itu sudah sangat cukup untuk mendorong menghabiskan nasi.
Meski satu ruang, tetapi itu menyatu pula dengan kamar
karena ada ranjang batu yang dilapisi kasur. Ada ruang belajar yang ditunjukkan
dengan adanya kursi batu dan rak batu berisi banyak gulungan lontar. Dan ada
taman pula.
Ada sejumlah tanaman hias di pot batu dan sekolam
kecil berisi kura-kura. Khusus di taman, ada cahaya matahari yang masuk
menembak. Rupanya di langit-langit taman ada lubang lurus seperti cerobong yang
menjadi jalan masuk cahaya.
Oh, hampir lupa. Untuk ruangan itu sendiri diterangi
oleh empat obor yang dipasang di dinding.
Si suami bernama Tegak Perkara. Usianya sudah setengah
abad lebih satu semester. Sosoknya sedang tapi berotot. Orang yang suka bermain
batu pasti memiliki otot yang kencang menonjol. Jidatnya seluas lapangan golf
alias botak depan termakan beban pikiran. Rambut belakangnya gondrong sebahu.
Saat itu dia tidak berbaju, hanya bercelana. Maklum, tidak ada kipas angin yang
membantu.
Istrinya bernama Uming Terpana. Mungkin karena dia
cantik dan membuat suaminya seorang yang terpana kepadanya. Usianya baru kepala
empat. Parasnya cantik dengan alis tipis segaris yang panjang. Rambutnya tergerai,
model yang membutnya terlihat lima tahun lebih muda. Saat ini dia mengenakan
pinjung merah sedada atas. Kulitnya putih bersih.
Keduanya sudah menjadi suami istri sepuluh tahun dan
telah dianugerahi empat orang anak. Namun, anak-anak mereka tidak tinggal
bersama karena aturan dari sang guru. Boleh menikah dan punya anak, tetapi anak
wajib tidak tinggal di situ. Jadi keempat anak mereka dititipkan dan asuh oleh
kakek, nenek, paman dan bibi, serta para tetangga.
“Kakang, kapan Guru akan kembali dari Istana Panikan?”
tanya sang istri di tengah-tengah aktivitas makannya.
“Mungkin kurang dari sepekan lagi,” jawab Tegak Perkara.
Tiba-tiba tempat itu terguncang samar. Samar tapi
sangat terasa.
“Ada gempa?” ucap Uming Terpana merespons, tetapi
nadanya bertanya.
“Bukan, ini bukan gempa. Ini ledakan tenaga dalam yang
sangat tinggi,” ucap Tegak Perkara agak tegang. “Sepertinya terjadi sesuatu di
luar.”
Sang suami tiba-tiba bangun dari duduknya. Dia pergi
ke sudut di dekat tempat tidur.
Melihat suaminya pergi mengambil senjata tombak
besinya, Uming Terpana pun segera meninggalkan meja makan dan pergi mengambil
baju warna putihnya yang tergantung. Ia pun mengambil senjata cemetinya yang
berwarna belang-belang kuning hitam.
Tanpa berkata-kata lagi, pasangan suami istri itu
berlari keluar dan menyusuri lorong batu.
Tidak berapa lama, keduanya sudah keluar dan berdiri
di atas sebongkah batu besar di dasar Jurang Bawah Atap yang remang-remang.
Sejenak mereka melihat situasi.
“Siapa itu, Kakang?” tanya Uming Terpana bernada
tegang. Ia yang lebih dulu melihat pergerakan cepat sepasang mata yang menyala
hijau dengan garis-garis warna merah redup di wajah dan seluruh tubuhnya.
“Itu Manusia Pasung!” sebut Tegak Perkara.
Mereka berdua telah melihat
sosok menyala di dalam kegelapan. Sosok itu melesat dan melompat-lompat dari
satu batu ke batu yang lain dan sedang datang mendekat kepada keduanya.
“Bagaimana ada yang bisa
lepas?” tanya Uming Terpana yang pastinya tidak bisa dijawab oleh suaminya.
“Lumpuhkan dengan Lengan
Sengat!” seru Tegak Perkara.
Tuk! Zerzzz!
Tegak Perkara menancapkan pangkal tombaknya ke batu,
lalu dia mengerahkan ilmu Sepasang Tangan Sengat. Maka muncullah aliran listrik
warna merah yang semrawut pada kedua lengannya.
Hal yang sama dilakukan oleh Uming Terpana. Kedua
tangannya pun diselimuti aliran listrik merah.
Semakin dekat sosok itu kepada mereka, maka
terkenalilah sosok bermata hijau. Juga terkonfirmasi pula bahwa sosok itu dalam
kondisi buto.
“Itu Bangga Layang!” sebut Uming Terpana.
“Serang!” seru Tegak
Perkara.
Zerzz! Zerzz!
Ketika jarak sosok yang
memang adalah Bangga adanya itu tinggal tujuh tombak, Tegak dan Uming kompak
menghentakkan kedua lengannya ke depan. Maka aliran listrik sinar merah yang
menggurita melesat ke depan menghantam sosok bugil Bangga, yang nama lengkapnya
adalah Bangga Layang, sesuai akte lahir.
“Huakkrrr!” teriak Bangga
Layang saat laju tubuhnya terhenti. Itu lantaran tubuhnya disergap oleh ratusan
lidah listrik yang kemudian menyengatnya dengan kekuatan 500 volt.
Tubuh itu mengejang dalam
posisi berdiri.
“Huakkrr!”
Suass! Bluarr!
Tiba-tiba dari tubuh Bangga
keluar bola sinar merah yang membesar dengan cepat lalu meledak. Ledakan itu
seketika menghancurkan bebatuan sekitar dan mengguncang kedua tebing jurang.
Tegak Perkara dan Uming
Terpana tidak bisa menghindari gelombang ledakan sinar itu. Mereka berdua
terlempar terbang ke belakang lalu masing-masing jatuh menghantam batu.
“Akk!” erang keduanya
kesakitan dengan tubuh terasa remuk, meski tidak remuk.
Ketika mereka melihat
situasi yang gelap oleh keremangan dan debu dari bebatuan yang hancur dalam
skala besar, tampak Bangga Layang telah pergi melewati mereka.
Mereka melihat pola urat
darah yang menyala di badan belakang Bangga Layang yang terus menjauh.
“Apa yang terjadi, Kakang?!”
tanya satu suara lelaki lain.
Tegak dan Uming menengok
kepada sumber suara. Seorang pemuda berpakaian pendekar warna biru gelap
mendatangi mereka dengan berlari kecil. Pemuda berambut pendek dan tampan itu
membawa senjata tombak besi juga.
“Bangga Layang lepas,” jawab
Uming seraya mengerenyit menahan sakit. Ada segaris darah yang keluar dari
celah bibirnya.
“Semak Gala!” panggil satu
suara lelaki lain berjenis bass.
Pemuda berambut pendek
seketika menengok kepada kedatangan Latong dari balik kabut debu.
“Iya, Kakang,” sahut pemuda
bernama Semak Gala.
“Cepat kau pergi ke penjara,
bantu Arung Lucu. Dia terluka cukup parah!” perintah Latong.
“Baik, Kakang,” ucap Semak
Gala patuh. Dia pun segera melompat ke batu yang lain lalu melesat pergi menuju
Sumur Racun, tempat yang akan dilalui untuk pergi ke ruang penjara, tempat
dikerangkengnya Manusia Pasung.
“Apa yang terjadi, Adik?”
tanya Tegak Perkara. Dia lebih tua dua tahun dari Latong.
“Arung Lucu memberi makan
Bangga Layang dengan tokek yang dicelupkan di sumur racun. Itu membuat Bangga
Layang mendadak kuat dan kesaktiannya tidak terkendali,” jelas Latong.
“Kita harus cepat
mengejarnya. Kita harus menangkapnya lagi!” kata Tegak Perkara.
“Ayo!” ajak Latong.
“Uming, apakah kau terluka?
Lebih baik kau di sini saja,” kata Tegak Perkara yang tersadar dengan kondisi
istrinya.
“Hanya luka kecil. Kita
harus mengeroyoknya jika kesaktiannya telah bisa muncul sehebat itu, Kakang.
Guru pasti akan marah besar jika Manusia Pasung ada yang lepas,” kata Uming.
“Baiklah. Tapi, jika lukamu
membahayakan, pulanglah,” kata Tegak Perkara.
“Hmm!” gumam Uming
mengangguk.
Tegak lalu mengarahkan
telapak tangannya ke posisi tombaknya menancap.
Set! Tap!
Tombak itu tercabut sendiri
dan melesat tegak lalu berhenti dalam genggaman Tegak.
Maka mereka bertiga segera
berkelebat cepat mengejar ke arah pelarian Bangga Layang.
“Bangga pasti menuju ke
jalan naik ke atas!” kata Latong dengan suara kencang kepada kedua saudara
perguruannya.
“Bagaimanapun juga, kita
harus mendapatkannya kembali sebelum Guru pulang!” sahut Tegak Perkara. (RH)

.jpeg)


.png)
.png)
.jpeg)
.png)



