3


Di dalam sebuah ruangan batu, duduk sepasang suami istri separuh baya berseberangan meja batu yang kecil, cukup sekedar meletakkan sepaket makan siang, yakni dua piring nasi dan sepiring lauk yang dimasak dengan bumbu melimpah berbau sedap dan tajam, sangat memanjakan selera nafsu makan. Lauknya hanya satu macam, tidak ada yang lain selain daging ular. Meski demikian, itu sudah sangat cukup untuk mendorong menghabiskan nasi.

Meski satu ruang, tetapi itu menyatu pula dengan kamar karena ada ranjang batu yang dilapisi kasur. Ada ruang belajar yang ditunjukkan dengan adanya kursi batu dan rak batu berisi banyak gulungan lontar. Dan ada taman pula.

Ada sejumlah tanaman hias di pot batu dan sekolam kecil berisi kura-kura. Khusus di taman, ada cahaya matahari yang masuk menembak. Rupanya di langit-langit taman ada lubang lurus seperti cerobong yang menjadi jalan masuk cahaya.

Oh, hampir lupa. Untuk ruangan itu sendiri diterangi oleh empat obor yang dipasang di dinding.

Si suami bernama Tegak Perkara. Usianya sudah setengah abad lebih satu semester. Sosoknya sedang tapi berotot. Orang yang suka bermain batu pasti memiliki otot yang kencang menonjol. Jidatnya seluas lapangan golf alias botak depan termakan beban pikiran. Rambut belakangnya gondrong sebahu. Saat itu dia tidak berbaju, hanya bercelana. Maklum, tidak ada kipas angin yang membantu.

Istrinya bernama Uming Terpana. Mungkin karena dia cantik dan membuat suaminya seorang yang terpana kepadanya. Usianya baru kepala empat. Parasnya cantik dengan alis tipis segaris yang panjang. Rambutnya tergerai, model yang membutnya terlihat lima tahun lebih muda. Saat ini dia mengenakan pinjung merah sedada atas. Kulitnya putih bersih.

Keduanya sudah menjadi suami istri sepuluh tahun dan telah dianugerahi empat orang anak. Namun, anak-anak mereka tidak tinggal bersama karena aturan dari sang guru. Boleh menikah dan punya anak, tetapi anak wajib tidak tinggal di situ. Jadi keempat anak mereka dititipkan dan asuh oleh kakek, nenek, paman dan bibi, serta para tetangga.

“Kakang, kapan Guru akan kembali dari Istana Panikan?” tanya sang istri di tengah-tengah aktivitas makannya.

“Mungkin kurang dari sepekan lagi,” jawab Tegak Perkara.

Tiba-tiba tempat itu terguncang samar. Samar tapi sangat terasa.

“Ada gempa?” ucap Uming Terpana merespons, tetapi nadanya bertanya.

“Bukan, ini bukan gempa. Ini ledakan tenaga dalam yang sangat tinggi,” ucap Tegak Perkara agak tegang. “Sepertinya terjadi sesuatu di luar.”

Sang suami tiba-tiba bangun dari duduknya. Dia pergi ke sudut di dekat tempat tidur.

Melihat suaminya pergi mengambil senjata tombak besinya, Uming Terpana pun segera meninggalkan meja makan dan pergi mengambil baju warna putihnya yang tergantung. Ia pun mengambil senjata cemetinya yang berwarna belang-belang kuning hitam.

Tanpa berkata-kata lagi, pasangan suami istri itu berlari keluar dan menyusuri lorong batu.

Tidak berapa lama, keduanya sudah keluar dan berdiri di atas sebongkah batu besar di dasar Jurang Bawah Atap yang remang-remang. Sejenak mereka melihat situasi.

“Siapa itu, Kakang?” tanya Uming Terpana bernada tegang. Ia yang lebih dulu melihat pergerakan cepat sepasang mata yang menyala hijau dengan garis-garis warna merah redup di wajah dan seluruh tubuhnya.

“Itu Manusia Pasung!” sebut Tegak Perkara.

Mereka berdua telah melihat sosok menyala di dalam kegelapan. Sosok itu melesat dan melompat-lompat dari satu batu ke batu yang lain dan sedang datang mendekat kepada keduanya.

“Bagaimana ada yang bisa lepas?” tanya Uming Terpana yang pastinya tidak bisa dijawab oleh suaminya.

“Lumpuhkan dengan Lengan Sengat!” seru Tegak Perkara.

Tuk! Zerzzz!

Tegak Perkara menancapkan pangkal tombaknya ke batu, lalu dia mengerahkan ilmu Sepasang Tangan Sengat. Maka muncullah aliran listrik warna merah yang semrawut pada kedua lengannya.

Hal yang sama dilakukan oleh Uming Terpana. Kedua tangannya pun diselimuti aliran listrik merah.

Semakin dekat sosok itu kepada mereka, maka terkenalilah sosok bermata hijau. Juga terkonfirmasi pula bahwa sosok itu dalam kondisi buto.

“Itu Bangga Layang!” sebut Uming Terpana.

“Serang!” seru Tegak Perkara.

Zerzz! Zerzz!

Ketika jarak sosok yang memang adalah Bangga adanya itu tinggal tujuh tombak, Tegak dan Uming kompak menghentakkan kedua lengannya ke depan. Maka aliran listrik sinar merah yang menggurita melesat ke depan menghantam sosok bugil Bangga, yang nama lengkapnya adalah Bangga Layang, sesuai akte lahir.

“Huakkrrr!” teriak Bangga Layang saat laju tubuhnya terhenti. Itu lantaran tubuhnya disergap oleh ratusan lidah listrik yang kemudian menyengatnya dengan kekuatan 500 volt.

Tubuh itu mengejang dalam posisi berdiri.

“Huakkrr!”

Suass! Bluarr!

Tiba-tiba dari tubuh Bangga keluar bola sinar merah yang membesar dengan cepat lalu meledak. Ledakan itu seketika menghancurkan bebatuan sekitar dan mengguncang kedua tebing jurang.

Tegak Perkara dan Uming Terpana tidak bisa menghindari gelombang ledakan sinar itu. Mereka berdua terlempar terbang ke belakang lalu masing-masing jatuh menghantam batu.

“Akk!” erang keduanya kesakitan dengan tubuh terasa remuk, meski tidak remuk.

Ketika mereka melihat situasi yang gelap oleh keremangan dan debu dari bebatuan yang hancur dalam skala besar, tampak Bangga Layang telah pergi melewati mereka.

Mereka melihat pola urat darah yang menyala di badan belakang Bangga Layang yang terus menjauh.

“Apa yang terjadi, Kakang?!” tanya satu suara lelaki lain.

Tegak dan Uming menengok kepada sumber suara. Seorang pemuda berpakaian pendekar warna biru gelap mendatangi mereka dengan berlari kecil. Pemuda berambut pendek dan tampan itu membawa senjata tombak besi juga.

“Bangga Layang lepas,” jawab Uming seraya mengerenyit menahan sakit. Ada segaris darah yang keluar dari celah bibirnya.

“Semak Gala!” panggil satu suara lelaki lain berjenis bass.

Pemuda berambut pendek seketika menengok kepada kedatangan Latong dari balik kabut debu.

“Iya, Kakang,” sahut pemuda bernama Semak Gala.

“Cepat kau pergi ke penjara, bantu Arung Lucu. Dia terluka cukup parah!” perintah Latong.

“Baik, Kakang,” ucap Semak Gala patuh. Dia pun segera melompat ke batu yang lain lalu melesat pergi menuju Sumur Racun, tempat yang akan dilalui untuk pergi ke ruang penjara, tempat dikerangkengnya Manusia Pasung.

“Apa yang terjadi, Adik?” tanya Tegak Perkara. Dia lebih tua dua tahun dari Latong.

“Arung Lucu memberi makan Bangga Layang dengan tokek yang dicelupkan di sumur racun. Itu membuat Bangga Layang mendadak kuat dan kesaktiannya tidak terkendali,” jelas Latong.

“Kita harus cepat mengejarnya. Kita harus menangkapnya lagi!” kata Tegak Perkara.

“Ayo!” ajak Latong.

“Uming, apakah kau terluka? Lebih baik kau di sini saja,” kata Tegak Perkara yang tersadar dengan kondisi istrinya.

“Hanya luka kecil. Kita harus mengeroyoknya jika kesaktiannya telah bisa muncul sehebat itu, Kakang. Guru pasti akan marah besar jika Manusia Pasung ada yang lepas,” kata Uming.

“Baiklah. Tapi, jika lukamu membahayakan, pulanglah,” kata Tegak Perkara.

“Hmm!” gumam Uming mengangguk.

Tegak lalu mengarahkan telapak tangannya ke posisi tombaknya menancap.

Set! Tap!

Tombak itu tercabut sendiri dan melesat tegak lalu berhenti dalam genggaman Tegak.

Maka mereka bertiga segera berkelebat cepat mengejar ke arah pelarian Bangga Layang.

“Bangga pasti menuju ke jalan naik ke atas!” kata Latong dengan suara kencang kepada kedua saudara perguruannya.

“Bagaimanapun juga, kita harus mendapatkannya kembali sebelum Guru pulang!” sahut Tegak Perkara. (RH)