Drap drap drap….!
“Heah heah!”
“Heah heah!”
Suara lari beberapa ekor kuda yang kencang dihiasi oleh
teriakan-teriakan menggebah agar si kuda yang sudah berlari kencang lebih
kencang larinya.
Ada tiga ekor kuda yang ditunggangi dalam formasi dikejar
dan mengejar. Satu kuda dikejar dan dua kuda mengejar. Diketahui bahwa satu
dikejar oleh dua, dilihat dari pakaian penunggangnya.
Dua penunggang di posisi belakang mengenakan pakaian yang
sama, hitam-hitam dengan wajah dicoreng cat merah dan kepala dibungkus kain
meah. Kedua penunggang di belakang tidak lain adalah prajurit dari Pasukan
Topeng Merah.
Adapun penunggang kuda di posisi depan adalah seorang
pemuda tampan yang mengenakan pakaian seperti orang kaya. Pemuda itu tidak lain
adalah Cuka Brantak, putra Demang Tumpuk Galak yang berhasil lolos dari
penyergapan.
Aksi kejar mengejar itu sudah berlangsung cukup lama
dan jauh. Satu hutan dan dua bukit sudah dilalui. Namun pada akhirnya, satu
insiden terjadi.
Sret! Set!
Cuka Brantak mencabut pedangnya lalu dia menebas dahan
pohon yang membentang di atas kepalanya.
Saat dahan pohon itu jatuh, Cuka Brantak sudah melesat
lewat bersama kudanya.
Bsruak! Blugk!
Nahas bagi prajurit yang posisinya di tengah. Dia
tidak bisa menghindari dahan pohon yang jatuh menghadangnya. Kuda itu menabrak
dahan pohon yang rimbun dengan dedaunannya.
Sang kuda tersandung dan jatuh tersungkur dengan si
prajurit tidak bisa menyelamatkan dirinya dari keterjatuhan.
Prajurit di belakang mampu membuat kudanya melompati dahan
karena ancang-ancangnya lebih jauh. Prajurit itu terus mengejar Cuka Brantak
yang sempat menengok ke belakang melihat kondisi para pengejarnya.
Ternyata prajurit yang jatuh bisa cepat bangkit dan
mendapati kudanya yang sudah bangun lebih dulu. Meski menderita luka
lecet-lecet, prajurit itu kembali menaiki kudanya dan melanjutkan pengejaran.
Kejar-kejaran terus berlanjut dengan jarak yang
berubah lebih jauh.
Kemudian tibalah Cuka Brantak di jalan agak menurun
dan tanahnya tanah merah kering.
Sreeet!
Cuka Brantak yang tidak memelankan kudanya saat
melewati jalan menurun tersebut, membuat sang kuda mengalami kecelakaan tunggal.
Kaki depan kuda terpeleset lalu tersungkur berguling-guling.
Bukan hanya kuda yang berguling-guling, Cuka Brantak
juga berguling-guling lalu terseret turun, sampai berhenti di bidang tanah yang
lebih landai.
Cuka Brantak yang menderita kesakitan cukup parah,
memaksakan diri untuk bangun demi mendapatkan kembali kudanya, tetapi sang kuda
justru sudah lebih dulu berlari liar meninggalkan tuannya.
Drap drap drap…!
Tidak berapa lama, prajurit terdepan tiba di sisi
atas. Dia memelankan kudanya agar tidak tergelincir.
Agak paniklah Cuka Brantak melihat prajurit berkuda
berhasil mendapatinya.
Putra Demang itu lalu mencabut pedangnya. Tidak ada
jalan lain selain melawan.
Melihat buruannya mencabut pedang, prajurit berkuda
itupun mencabut pedangnya sambil melarikan kudanya ke posisi Cuka Brantak.
Ting!
Cuka Brantak bersiap dengan memasang kuda-kuda dan
memegang pedangnya dengan dua tangan. Sambil mundur dia menangkis sabetan pedang
si prajurit.
Si prajurit segera menghentikan kudanya dan berbalik
untuk memburu Cuka Brantak lagi.
Cuka Brantak cepat berlari untuk kabur. Dia menuju ke
arah ujung jalan yang kondisinya diapit oleh dua bidang ilalang nan tinggi
sebahu.
Prajurit itu mempercepat lari kudanya mengejar Cuka
Brantak. Pada saat yang sama, prajurit kedua muncul di sisi atas. Dia pun
memelankan lari kudanya agar tidak tergelincir di tanah merah. Sebagai prajurit
berkuda, tentunya mereka sudah mahir dalam mengendalikan kuda.
Drap drap drap!
Prajurit pertama bisa menyusul Cuka Brantak sambil
mengayunkan pedangnya. Namun, Cuka Brantak memilih melompat ke samping dan
bergulingan di tanah. Itu membuat posisi si prajurit dan kudanya telah menutup
jalan lari bagi Cuka Brantak.
Posisi Cuka Brantak kian tersudut ketika prajurit
kedua datang mendekat pula.
“Menyeralah!” perintah prajurit pertama.
“Tidak!” jawab Cuka Brantak lantang sambil berdiri
memegang pedang dengan dua tangan dan wajahnya menengok ke kanan-kiri.
“Kalau begitu, aku ingin melihat sejauh mana
kehebatanmu sebagai seorang lelaki yang kabur dari rombongan!” kata prajurit
pertama.
Dia lalu melompat turun. Kudanya dilepas begitu saja
karena sang kuda tidak akan pergi ke mana-mana, meski tidak akan diam di situ
saja.
Prajurit pertama mendatangi Cuka Brantak. Mata di
wajah bercat merahnya itu tajam menatap laksana seorang pemburu nyawa.
“Hiaaat!” teriak Cuka Brantak lebih dulu berlari maju
sambil mengayunkan pedangnya, mengincar batang leher.
Ting! Ting ting!
Maka terjadilah duel pedang ketika prajurit pertama
menangkis dan membalas dengan serangan.
Set!
“Aak!” jerit Cuka Brantak saat batang tangan kirinya
terkena sayatan pedang si prajurit.
Si prajurit bisa langsung paham sejauh mana level olah
kanuragan Cuka Brantak. Itu membuatnya tersenyum meremehkan.
“Jika kau tidak menyerah, maka kau akan mati muda dan
sia-sia, Kisanak,” kata si prajurit.
“Jangan meremehkanku!” teriak Cuka Brantak. Ia lalu
menyerang lagi dengan garang. “Hiaaat!”
Si prajurit dengan muda menangkis setiap tebasan dan
tusukan Cuka Brantak.
Suuut! Buk!
Si prajurit melakukan tangkisan dengan cara yang agak
berbeda. Dia menangkis tapi melakukan gerakan mengalah, membuat Cuka Brantak
tertarik doyong ke depan. Di saat Cuka Brantak kehilangan keseimbangan, si
prajurit memberi tendangan keras di lambung.
Tendangan itu membuat Cuka Brantak terdorong dan
terhuyung. Si prajurit cepat memburu dengan bacokan dari sisi belakang.
Set!
“Aaakk!” jerit Cuka Brantak kencang. Punggung baju dan
badannya robek tersayat.
Cuka Brantak jatuh ke tanah dengan punggung bersimbah
darah. Pedangnya lepas dari tangan.
“Bunuh saja agar tidak ada beban lagi buat kita!”
teriak prajurit kedua yang masih duduk di punggung kudanya.
“Baik!” sahut rekannya.
Prajurit pertama segera merangsek kepada Cuka Brantak
yang mengerang kesakitan karena lukanya. Tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya.
Leher adalah target senjatanya.
Cuka Brantak hanya bisa terbeliak dan menatap bayangan
Malaikat Maut datang kepadanya.
Set!
Tus tus!
“Aakk!” jerit prajurit pertama itu dengan tubuh terlompat
mundur ketika ada dua benda kecil menembus dadanya.
Terkejut prajurit kedua dan Cuka Brantak dengan
kejadian tidak terduga itu. Prajurit kedua masih bisa melihat dua benda kecil
yang jatuh di tanah dalam kondisi berlumur darah. Dua benda itu adalah batu
kerikil yang sudah basah oleh darah.
Dua batu kerikil itulah yang membunuh prajurit pertama.
Dia cepat mencari orang yang telah menyerang rekannya.
Ketemu. Dari jalan yang tertutupi oleh ketinggian
ilalang muncul berlari seorang perempuan berpakaian warna kuning. Perempuan gemuk
tapi kekar itu menggendong keranjang bambu di punggungnya.
Perempuan yang adalah Botong tersebut, berlari ke arah
titik pertarungan.
Karena Cuka Brantak telah terluka parah, prajurit
kedua memilih melarikan kudanya menyongsong kedatangan gadis gemuk yang
terlihat dekil tersebut. Dia telah menghunus pedangnya.
Sambil berlari, Botong menghentakkan tangan kanannya
ketika jarak keduanya masih sejauh tujuh tombak.
Set!
Sebanyak empat butir kerikil melesat menembusi dada
kuda. Itu membuat sang kuda jatuh tersungkur dengan si prajurit terlontar ke
depan.
Bdak!
“Akk!”
Botong menyongsong tubuh si prajurit kedua dengan keranjangnya
yang berisi banyak kerikil. Dia mengibaskan beban di punggunya berputar ke
depan. Keranjang itu menabrak tubuh si prajurit yang terlontar ke depan.
Prajurit kedua terlempar ke samping lalu jatuh dengan
kondisi tanpa nyawa lagi. Beban berat telah menghantam kepalanya.
Setelah memastikan lawannya mati, Botong segera
berlari kecil mendatangi Cuka Brantak.
“Terima kasih, Nisanak,” ucap Cuka Brantak sambil
meringis menahan sakit.
Tooot!
Cuka Brantak terkejut karena ucapan terima kasihnya
dijawab dengan suara kentut yang bombastis.
“Lukamu cukup parah, Kakang,” ucap Botong dengan suara
cemprengnya saat melihat dengan jelas luka di punggung pemuda yang tidak
dikenalnya itu. (RH)

.jpeg)


.png)
.png)
.jpeg)
.png)



