Fastabiqul Khairat Sepasang Naga Pemabuk (12)

Ilustrasi: Ustaz Hariri
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Pagi yang cerah dengan udara kompleks yang masih segar. Horsa duduk di kursi teras hanya dengan bersinglet merah dan bercelana pendek merah yang ada angka sembilannya. Tangan kanannya sedang berolah raga angkat barbel kecil untuk tetap menjaga kekencangan otot lengannya.

Tobatnya Sepasang Naga Pemabuk (11)

Ilustrasi 
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Setelah sulit tidur tadi malam, karena pikiran yang sarat muatan kegalauan, hari ini Fito kembali beraktifitas sebagaimana biasa. Namun, kali ini ia menyimpan agenda khusus usai pulang kerja.

Persyaratan yang diberikan Rani kepadanya, membuat malamnya merayap dalam kebimbangan. Permintaan Rani melalui adiknya, Rina, tidak tanggung-tanggung. Fito diminta tidak boleh minum dan mabuk lagi. Bagi Fito itu adalah “pembunuhan jati diri”.

Cincin yang Pulang (10)

Ilustrasi: Muslimah. (Foto: Beautynesia.id)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Kedua jarum jam yang menempel di dinding ruangan itu menunjukkan pukul 16.15 WIB. Ruangan tamu itu tampak cukup lapang dengan lantai keramik putih biasa dan dinding berlapis semen biasa yang kemudian ditutup dengan cat warna cream. Hanya ada satu set kursi sofa semi kayu. Sederhana.
Di kursi itu duduklah Marni, gadis hitam manis berjilbab kuning berbaju kuning. Ia sedang menemani tamunya, seorang pemuda yang memang masih sangat muda, baru berusia 18 tahun, tapi semangat cintanya sudah setinggi jiwa kepala tiga. Pemuda itu adalah Firman Barayuda.

Menangis Dalam Tawa (9)



Ilustrasi: Muslimah berlesung pipi
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:



Sebuah mobil AVP silver memasuki halaman rumah Rina. Orang yang mengemudi adalah Gunawan, sahabat mabuk Fito. Sisiran rambutnya begitu rapi ke belakang, karena rambut gondrongnya diikat satu di belakang. Bibir berkumisnya itu memiliki setitik tahi lalat di bawah sudut kiri bibir. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang. 

Sejenak Gunawan berkaca dahulu ke kaca spion. Setelah terlihat sempurna, ia pun turun keluar dari mobil. Ia langsung menuju ke pintu.

Godaan "Cewek-cewek Prematur" (8)

Ilustrasi: siswi SMA. (Foto: Instagram)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Memang, 15 menit kemudian, seorang pemuda datang bertamu ke rumah itu. Pria itu tidak lain adalah Fito. Yang membukakan pintu pagar dan pintu rumah adalah Lina, pembantu perempuan di rumah itu.

Assalamu ‘alaikum!” ucap Fito saat dibukakan pintu rumah.

Wa ‘alaikum salam!

"Kata Calon Suami Gua" (7)

Ilustrasi (Foto: dok. Hipwee.com)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Motor bebek merah itu berhenti di teras sebuah rumah sederhana. Lampu di dalam rumah sudah padam, tapi lampu di langit-langit teras menyala terang. Pintu pun tertutup rapat. Sepi di sekitar rumah, termasuk di rumah tetangga kanan dan kiri.

Malam itu memang sudah pukul 23.45 WIB.

Layatan Pemabuk (6)

Ilustrasi (Foto: Bali Berkarya)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Seorang lelaki berusia lima puluhan tahun membawa ember merah dan mengisinya dengan air keran yang ada di samping rumah. Rambut gondrong sebahunya sudah memiliki dua warna, hitam dan putih. Kumis lebatnya masih hitam. Ia hanya memakai kaos singlet warna merah, membuat otot tuanya yang masih kekar terbuka lebar. Otot tuanya masih dijaga dengan olahraga angkat barbel, meski sudah sangat terlihat kulit yang memang masanya mengendur. Di lengan kiri terdapat gambar tato kepala singa dan lengan kanan tato pisau belati menusuk di buah apel. Celana yang dikenakannya jenis jeans seatas lutut, karena memang sengaja dipotong pendek, sehingga benang-benang yang terburai menggantung ditepiannya. Sepasang kakinya memakai sendal jepit belaka. Ia bernama Horsa Bonapata, penguasa di rumah itu.

Rencana Penyelamatan (5)

Ilustrasi: dua muslimah.
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:


Senin pagi yang cerah. Barada mengayuh sepeda cewek miliknya dengan kecepatan sedang. Tidak seperti biasanya, gadis belia berjilbab putih berseragam baju dan rok putih ini kini memakai masker bergambar kodok di wajahnya. Tasnya ia taruh di keranjang depan sepeda. Meski rok panjangnya terangkat sedikit, tapi Barada masih memakai celana longgar untuk menutupi aurat kakinya.

Kejutan di Sore Hari (4)

Ilustrasi. (Foto: Tempo.co)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Berbeda dengan suasana siang hari sebelumnya. Menjelang waktu Magrib ini, suasana ruangan tamu begitu rapi dan bersih. Aroma harum pewangi ruangan kelas mahal tercium menenteramkan hidung di seluruh seantero ruangan yang ada di rumah mewah tersebut.

Perjanjian di Depan Botol Bir (3)

Ilustrasi (Foto: Yummymummyclub.ca)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:

Pesan singkat yang dibaca oleh Dedy Sirana di ponselnya membuat pengusaha perhotelan itu pulang tiga jam lebih awal.

Sejak ia membaca pesan kiriman istrinya, kemarahan bercokol di hati dan otaknya, membuat wajahnya sangat tidak sedap dipandang. Wajah berkulit putih bersih itu tampak menegang dengan sorot mata yang galak. Saraf-saraf senyumnya seakan semuanya membeku.

"San, Gua Hamil" (2)

Ilustrasi: Muslimah menangis. (Foto: Pinterest)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Sebelumnya:


Kamar kosong besar ini bisa disebut ramai, karena banyak wajah-wajah lucu dari boneka-boneka yang berbulu halus menatap kosong dari berbagai sudut. Di lemari, mereka bersender rapi dengan berbagai warna. Dari yang ukuran mini seperti seukuran kaos kaki hingga seukuran badan manusia.

Boneka Winnie the Poo berwarna kuning berbaju merah yang seukuran orang dewasa duduk bersender di sudut kamar. Di sudut kamar yang lain, boneka panda raksasa juga duduk bersender.

Cinta Botol Jamu (1)

Ilustrasi: Muslimah hitam manis. (Foto: Womencentersemi.org)
Oleh: Rudi Hendrik

Tahun 2016

Pemuda berpakaian serba hitam ini dengan semangat mengayuh sepeda model cewek yang di bagian depannya ada keranjang berisi beberapa botol jamu. Usianya 18 tahun. Di dada kanan baju hitamnya ada logo bordiran kuning bergambar dua batang tangan yang saling menyilang di atas tulisan bordiran putih berbunyi “Tapak Emas”. Pemuda berwajah cokelat sawo matang ini dapat dikatakan cukup tampan. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian silat dari Perguruan Tapak Emas. Ia sendiri bernama Firman Barayuda. Nama depan Firman menunjukkan bahwa orang tuanya adalah Muslim. Namun, karena bapaknya penggemar berat cerita kolosal dari negeri Hindi, yaitu Mahabarata, nama belakangnya diikuti “Baratayuda”, nama peperangan besar antara Pandawa dan Kurawa. Agar tidak mencolok, maka dirubah jadi “Barayuda”.